Senin, 24 Juni 2019

Cukupkanlah -2





Perlu banyak waktu bagiku menumbuhkan suka,

Namun tak cukup banyak waktu diperlukan oleh luka.


Rasa mengisi hati,

Hati terisi sepi.
Meski tak bersisi, 
Bolehkah aku sekedar memimpikanmu lagi?

Tiga hari dari sekarang, lukanya mungkin belum sembuh.
Tiga hari dari sekarang, cintanya mungkin masih utuh.
Tapi, tiga hari dari sekarang, aku hanya ingin mengingatmu dengan baik,
Bahwa ada hal-hal yang tak perlu diusahakan.
Merasa saja sudah cukup.
Tak berbalas pun tak apa.
Bahwa ada hal-hal yang tak perlu diperjelas,
Tentang aku yang menyukaimu dan kau yang tidak.

Rabu, 19 Juni 2019

Sewaktu makan malam tiba...

Ada saat dimana aku benar-benar ingin bertemu denganmu.
Saat hariku benar-benar buruk.
Saat semua jalan terasa buntu.
Aku ingin meletakkan sejenak kepala ini dipundakmu.

Ada saat dimana aku merasa ingin menikmati makan malamku bersamamu.
Menutup hari dengan berbincang denganmu.
Aku bosan hanya ditemani bangku kosong.
Aku bosan menghabiskan makananku seorang diri.

Ada hari dimana aku tak berani menegakkan kepalaku.
Lagu-lagu sendu mengiringi langkahku.
Hari dimana aku ingin menangis sekencangnya.
Hari dimana aku hanya ingin dipeluk sekuatnya.

Ada hari dimana aku menunggumu menyelamatkanku.
Ada hari dimana aku menunggumu mencariku.

"Bagaimana harimu?"

Ada hari dimana aku membayangkan dirimu menungguku pulang.
Kau menanyakan bagaimana aku melalui hariku saat itu.
Hari itu, dengan membayangkannya saat ini, hatiku terasa hangat.

Ada hari-hari aku ingin segera menemuimu.
Ada hari dimana aku ingin berlari mencarimu.
Karena sepertinya, terlalu berat bagiku menjalani hari itu seorang diri.

Bagaimana kabarmu hari ini?
Makan malamku sudah habis.
Kau tak jua datang menemani

Bob Dylan:
Ev’rything is always right
When I’m alone with you

Senin, 01 April 2019

Cukupkanlah -1

Cukupkanlah Ikatanmu,
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu. 
Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
-Kunto Aji-


Ada rasa yang seharusnya mampu dikendalikan. Sadar untuk dicukupkan.
Bahwa cukup untuk menyukai seseorang lebih dari diri sendiri.
Untuk tahu kapan berhenti lalu melanjutkan hidup.
Untuk tahu kapan melepaskan yang seharusnya memang dilepaskan.
Meski tahu, sulitnya bukanlah tentang bagaimana melanjutkan hidup, melainkan khawair akan melepaskan kenangan. 
Karena tahu bahwa setiap rasa yang bermuara tidak datang tiba-tiba,
Ada waktu yang mengambil peran.
Dan sama seperti hadirnya cinta, melepaskan juga membutuhkan waktu.
Tak bisa tiba-tiba, tak bisa seketika.

Cukupkanlah ..
ulangi kata itu bak mantra. 
hingga esok kau terbangun dengan hati yang baru.
Cukupkanlah...



Selasa, 26 Februari 2019

Melawan Lupa

Image from google 

Potongan-potongan kenangan dicuri oleh waktu. Lambat laun, semuanya hilang tanpa bekas, namun cinta tak akan pernah lupa rumahnya. Akan selalu ada desir yang meraja hati, akan selalu ada detak yang seirama terdengar, dan akan tetap selalu ada rasa yang tak bisa didefenisikan meski ingatan telah kabur. Mungkin Aku kelak tidak bisa lagi mengingat namamu, namun Aku yakin, Aku pasti akan selalu menyayangimu. Bahkan jika kelak waktu telah menghapus ingatan ini, bahkan jika Aku akan mulai melupakan raut wajahmu, Aku berjanji, tak akan pernah berhenti berjuang  untuk mengingat bagaimana Kau mencintaiku.
***
Pagi itu Aku terbangun dengan mata yang masih menutup. Kantukku belum hilang, namun keinginan untuk membuang hajat jauh lebih besar. Pagi itu, sunyi dipecahkan oleh langkah sepatu yang kian mendekat, suara derit pintu yang terbuka dan kecupan ringan mampir dikening, menyadarkanku. “Selamat Pagi!” Sapa ringan dari suara itu menghilangkan kantukku. Mataku terbuka menatap senyum yang sedari tadi melebar, dengan sepasang mata indah yang menatapku. Peluh mengalir dari dahinya dengan handuk yang masih bertengger dibahunya. Sepertinya dia baru saja melakukan olahraga pagi. Terlihat jelas dari sepatu olah raga yang belum dilepas. “Sudah selesai ?” tanyanya kembali membuyarkan beberapa detik kebingunganku. “Selesaikan mimpimu belakangan, Aku lapar, ayo sarapan!” Ucapnya berlalu meninggalkanku yang dipenuhi kebingungan. Ada jeda panjang dipikiranku hingga akhirnya Aku kembali sadar seperti biasanya. Hari itu, hari pertamaku melupakanmu.

Hai, Kamu ingat siapa Aku?” Tanyamu di lain waktu, terdengar seperti tengah menggodaku, tentu saja Aku mengingatmu. Kau manusia pertama yang begitu Aku cintai selain diriku sendiri. Bersamamu Aku menjadi wanita yang paling beruntung. Bagaimana Aku bisa melupakanmu ? bahkan jika Aku mendadak amnesia sekalipun, Aku pasti akan bisa mengenalimu. Itu jawabku selalu. Kau, pemilik senyum yang terindah. Aku pasti tak akan melupakanmu. Janji.

Pagi itu Aku terbangun dengan teriakan yang pasti mengagetkanmu. Aku benci diriku sendiri yang mulai perlahan melupakan semua kenangan-kenangan kita. Sekeras apapun Aku mencoba, kenangan itu perlahan menjauh dan hilang begitu saja. Aku sepertinya mulai lupa, lupa untuk tidak melupakanmu.
“Sedang apa kamu disini ?” tanyaku lagi yang mungkin sudah entah keberapa kali dan Aku bisa melihat bagaimana mata itu berubah menjadi sendu. “Menemanimu” jawabmu lembut. Ada getir yang terasa dalam setiap perkataanmu. Pelukanmu mengembalikan semuanya. Belaian tanganmu menenangkan tangisku pagi itu. Hari itu, hari pertamaku melupakan pernikahan kita.

“Kamu tak mau pergi saja dariku ?” tanyaku suatu hari. Ada saat dimana ketentraman berlangsung cukup panjang. Aku selalu berharap hari-hari seperti itu berlangsung selamanya. Saat Aku tak perlu menjerit dikala bangun pagi, ataupun mulai melupakan beberapa hal atau juga mulai menanyakan pertanyaan yang berulang. Kadang ada dimana hari, semua berjalan dengan normal dan Aku ingin hari itu belangsung selamanya. Aku hanya tak ingin menambah kerepotanmu mengurusiku setiap harinya. Pergi kemana? Rumahku disini, cintaku disini, dan istriku disini. Aku harus pergi kemana lagi? Aku justru tak punya tempat selain disini bersama kamu.” Jawabmu, tangan kita menggengam erat. Bahkan mungkin kau menggenggamnya lebih erat dari yang pernah kuingat. “Tak ada yang perlu kamu khawatirkan. Semua akan baik-baik saja” Sambungmu sembari mengecup puncak rambutku. Kau selalu menyakinkanku bahwa tak akan pernah ada yang berubah, meski ingatanku kelak menua.

Banyak hal yang Aku takutkan, ketika waktu mulai mengambil alih memoriku. Aku mulai takut akan malam. Aku takut tuk terlelap dan bangun tanpa bisa mengingat apapun lagi. Aku juga takut, dipagi hari saat Aku terbangun, kau sudah pergi meninggalkanku. Dan meski kau sudah pergi, Aku bahkan tidak bisa mengingat hadirmu pernah ada. Lemari pendingin menjadi saksi bagaimana Aku berjuang untuk tidak melupakan keberadaanmu. Satu-satunya cara untuk mengabadikan kenangan hanyalah lewat gambar katamu, dan sejak itu Aku tak pernah berhenti mengabadikan gambarmu dan menempelkannya disana. Katamu, kau tak akan membiarkan Aku melupakan tentang kita. Kau akan menemaniku dan berjanji menjadi pengingat yang baik saat Aku melupakan beberapa hal. Lalu bagaimana jika Aku malah melupakanmu?. Itu tanyaku kelima kalinya pagi ini bukan? tak maukah kau melarikan diri saja ?

Saat benih cinta mulai tumbuh dan berkembang bersatu dalam diriku, tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu. Aku menuliskannya disemua tempat hanya karena Aku takut melupakannya. Aku bahkan menuliskan tentang keberadaan malaikat kecil itu ditubuhku. Aku ingin mengingatnya sekeras Aku tidak ingin melupakanmu. Tapi kau pasti ingat bagaimana dokter menyarankan untuk mengubur mimpi-mimpi kita hanya karena Aku. Dan demi Aku, katamu, kau rela untuk menunda dirimu dipanggil sebagai seorang “Ayah”. Tak mudah menjalaninya bersamaku. Wanita yang tak berdaya karena waktu. Yang memorinya punya batas dan sewaktu-waktu justru bisa terhapus. “Nanti, saat waktu memberi kita banyak kesempatan lebih lama lagi untuk mengingat banyak hal, Aku janji saat itu kamu akan menggendong buah hati kita. Kamu pasti akan menjadi ibu yang hebat.” Ucapmu lirih. Matamu kali ini basah dipenuhi air mata. Hari itu, hari pertamaku melihatmu menangis.

***
Pagi ini Aku terbangun lebih cepat sepertinya. Matahari belum menampakkan dirinya. Aku hanya bisa memastikan waktu lewat jam yang tepat berada di nakas samping tempat tidurku. Pikiranku kosong, Aku tengah mencari memori yang tersisa. Apa yang terjadi sebelum Aku tidur, Aku sedang berada dimana, hingga pertanyaan siapa Aku yang sebenarnya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu Aku coba tanyakan pada diri ini, kala waktu menunjukkan pukul 6 tepat. Aku tahu, Aku telah melewatkan tahun-tahun yang panjang. Tanganku mulai berubah sepertinya, keriput mulai mengambil bagian dalam tubuhku. Aku mengedarkan pandang kesekeliling. Kudapati gambar-gambar pria dan wanita yang saling merangkul memenuhi dinding kamar. Banyak tulisan-tulisan tangan pula yang memenuhi dinding. Ada kehangatan didada saat Aku melihat itu semua. Entah siapa yang ada foto itu, tapi yang Aku tahu mereka pasti sangat bahagia. Pandanganku berhenti pada sosok lelaki yang tengah tertidur pulas tepat disampingku. Suara dengkurannya terdengar sangat menenangkan. Wajahnya juga dihiasi oleh beberapa kerutan, namun tak mampu menutupi wajahnya yang tampan. Lelaki paruh baya itu tertidur pulas seperti seorang bayi. Uban juga tampak diantara rambut hitam gelombangnya. Aku mengenalinya, sepertinya dia adalah pria yang berada dalam gambar-gambar ini. Dan Akukah wanita itu ?
Lelaki itu tersentak, terbangun. Mungkin dia terganggu dengan suara yang ada dipikiranku. Dia tersenyum lebar, dengan sepasang lesung pipi itu Aku menjamin pasti banyak wanita yang rela menjadi kekasihnya. “Kamu sudah bangun ?” tanyanya sembari tersenyum kembali. Aku hanya mampu menatap lelaki itu, mencoba mencari informasi yang tersisa tentangnya dikepalaku.. Kosong. Hanya dada ini yang bergemuruh, ada desiran hangat dalam tubuhku, yang menandakan bahwa mungkin Aku sangat mengenal lelaki ini. Bulir air mata jatuh tanpa Aku perintah seperti mengikuti kata hati, air mata ini jatuh tak terbendung. Entah apa yang harus Aku tangisi, Aku bahkan tidak mampu mengingatnya.
Lelaki itu beranjak dan mendekatiku, khawatir. “Kamu baik-baik saja ?” Raut wajah itu, kepedihan di mata itu, tak mampu Aku artikan. Genggaman tangannya yang menguat justru membuat hati kian merasa sakit. “Hai...” jawabku singkat yang tak menjawab pertanyaannya. Tak lepas pandangku dari matanya. Sembari menggali kembali setiap kenangan yang ada, berharap sedikit ada yang tertinggal.
Kamu baik-baik saja kan ?” Ucapannya kali ini terdengar kalut. Tangannya meraih bahuku, matanya mencari mataku mungkin ingin memastikan bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Aku hanya mampu menatap kedalam matanya, mata coklat hazelnut yang menenangkan itu akhirnya luruh. Ada genangan air mata yang mengalir saat Aku bahkan tak mampu menjawabnya.
Kamu mengingatku bukan !?” Tanyanya putus asa. Ada isak yang jelas terdengar. Ada rasa perih didalam matanya saat pertanyaan itu Ia ucapkan. “NAMAKU SIAPA AIRA ?!!” Bentaknya kali ini “JAWAB!” Teriaknya sambil mengguncang bahuku.
Aira. Nama yang bagus sepertinya. Itukah namaku ? Air mataku hanya terus mengalir. Aku bahkan tidak bisa mengingat namaku sendiri. Inikah akhirnya?
Airaa...” Panggilnya putus asa. Isaknya kian kuat. Aku pun begitu. Aku bahkan tidak tahu harus menyapanya dengan sebutan apa. “Aira...” hanya itu yang mampu ia ucapkan. Lelaki itu memanggil namaku seolah-olah hanya nama itu yang selama ini ada di hatinya. Dia menatapku memelas. Seperti berharap agar Aku berhenti berpura-pura lupa. “Kamu mengenaliku kan, Aira?” Kali ini dia menghapus semua air mata yang ada. Menyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Dia terus menatapku sambil berusaha menahan tangis yang jelas jelas sebentar lagi akan pecah.
“Aku tidak mengenali dirimu. Aku tidak mengingat namamu, Maaf...” Ada perasaan hancur yang terpancar dari wajahnya saat Aku mengucapkan kalimat itu. Matanya terpejam berusaha menolak bahwa yang dia dengar adalah salah. “Aku mencoba, tapi aku tak mengenalimu, maaf...” tangisku menguat. Kepala ini sepertinya kian tak berguna, kupukul berulang kali hanya berharap dengan begitu kali saja kepala ini bisa kembali dengan sistemnya yang semula. Lelaki itu hanya mampu menundukkan kepala dengan baju yang telah dibanjiri airmatanya sendiri. Isak tangis memenuhi ruangan kamar ini. Dia yang menangisi kenyataan dan Aku yang menangisi keadaan.  “Aku mungkin tak mampu mengingatmu, tapi hati ini mengingatnya. Hati ini tahu bahwa Kamu sangat mencintaiku, dan Aku pun yakin, Kamu adalah orang yang sangat Aku cintai”. Tanganku menggenggam erat jemari itu, Kalimatku ditutup oleh tangisnya yang kian terasa perih. Dia segera meraihku kepelukannya. “Terima Kasih, Aira. Terima Kasih...” bisiknya. Hanya itu yang ia ucapkan. Dia mengecup wajahku. Membanjiriku dengan kecupan yang banyak. “Aku pun sangat mencintaimu” jawabnya.

Pagi itu, Pagi terakhirku mengenalimu. Memoriku lenyap tak bersisa. Tapi Aku tahu, ada satu hal yang tak akan pernah hilang dariku, meski waktu coba untuk merebutnya. Bagaimana kau mencintaiku di hari pertama kita bertemu, bagaimana kau tetap mencintaiku di hari-hari Aku melupakanmu, dan bagaimana kau tetap mencintaiku meski kelak tanpa ragaku. Hatiku akan tetap mengingatnya.


Jumat, 04 Januari 2019

Mei 2018



Perjalanan kali ini membawa aku pada satu cerita baru.
Cerita yang kugenggam dalam ingatan, dan kutuang dalam tulisan yang berharap lebih abadi dari perjalanan itu sendiri.
Aku, menemukan sebuah makna baru dari sebuah perjalanan, bahwa banyaknya jalan yg tertempuh justru membawa kita berakhir pada sebuah kebingungan.
Bingung untuk membedakan, apakah aku sedang "pergi" atau "pulang".
Apakah aku sedang "datang" ketempat baru atau malah "kembali" ke posisi sebelumnya.
Gugusan pulau itu mengingatkan ku bahwa sejauh apapun aku sekarang belayar, yang ku perlukan hanya sebuah dermaga untuk berlabuh.
Aku yang singgah antara pulau demi pulau itu, menyusuri mencari hal menarik untuk di kenang,
Namun lucunya meski aku menyukainya, aku tak pernah berencana untuk tinggal menetap.
Aku kembali kedalam perjalananku, entah itu untuk "pergi" atau untuk "pulang".
Perjalanan ini membawa aku pada sebuah cerita baru, bahwa pergi tak berarti hilang.
Dan pulang belum tentu kembali.
Namun satu hal yang paling kuyakini saat ini, tepat diatas ketinggian 2000 kaki ini, kelak aku pasti akan berhenti melakukan perjalanan pencarianku.
Akan ada satu dermaga yang nantinya tak akan ku tinggal pergi.
Sebuah tempat yang akan ku sebut "rumah".
Sebuah tempat yang apapun yg ada di dalamnya akan menjadi sebuah pertualangan baru.
Sebuah tempat yang berisi aku, kamu dan cerita-cerita kita.

Labuan Bajo, Mei 2018 



Jumat, 16 November 2018

My Day




Baru saja melewati usia yang ke 27 lalu kemudian tersadar bahwa saya sudah "sedewasa" itu. Tapi yang terjadi malah tidak seperti yang saya bayangkan dahulu 5 tahun lalu. Dahulu ketika berusia 22 tahun, saya dengan penuh optimistik membayangkan bagaimana  diri ini seperti apa diusia 27 tahun. Dan yang terjadi ketika saya tiba diusia ini, saya justru merasa tidak terlalu banyak hal yang berubah selain badan yang kian membesar karena timbunan lemak :D 

Tepat ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 di tanggal 7 september lalu, yang saya lakukan hanyalah mencoba mengingat kembali hal hal apa yang dari dulu ingin diwujudkan di usia  ini, dan yang membuat saya tercengang, saya seperti tidak sedang bergerak kemana mana, itu pikiran saya. Nyatanya, banyak hal hal yang tak terduga telah terjadi. dari sekian banyak list impian yang ingin saya wujudkan, saya malah melakukan hal hal yang tak pernah saya berani impikan. 

Hidup yang sedang kita jalani selalu penuh rencana. Maunya begini, Maunya begitu. Nanti akan begini, kemudian akan menjadi begitu. Semuanya penuh rencana seolah-olah kita bisa memastikan bahwa apa yang kita rencanakan pasti akan berjalan dengan baik. Kita kerap lupa bahwa ada kuasa lain yang mempunyai peran utama dalam setiap rencana kita. 
Kita bisa saja menjadi pemeran utama dalam kehidupan kita masing-masing, tapi kita bukanlah sutradaranya. Kita juga bukan penulis skenario kehidupan kita sendiri. kita hanya menjalani apa yang sang sutradara inginkan. 

Tahun ini, saya menjalani banyak hal yang tak terduga, ternyata.
Lantas mengapa saya harus merasa murung karena "bucket list" saya yang belum tercapai?
Tahun ini, saya pergi ketempat-tempat yang tak pernah saya bayangkan, lantas mengapa saya harus terus menerus merasa muram hanya karena saya belum pernah sampai ditempat yang saya inginkan ?

Semua sudah mempunyai waktunya masing-masing. Waktu di Jayapura lebih cepat 2 jam dari pada waktu di Jakarta, namun bukan berarti Jakarta ketinggalan bukan? 
Mungkin hidup juga seperti itu. Di usia yang kian bertambah, jelas pemikiran-pemikiran tentang hidup seperti apa yang sebenarnya sedang kita jalani merupakan pertanyaan yang akan paling sering kita tanyakan pada diri sendiri. Tiap hari pasti akan banyak keraguan akan setiap keputusan yang kita buat.
Masa lalu adalah sejarah, dan masa depan adalah misteri. Lantas menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya tak akan pernah kita tahu tak akan membuat misteri tersebut terpecahkan bukan? 

27 tahun saya kali ini banyak membuat saya berfikir tentang apa yang sudah saya capai, tentang apa yang mungkin pernah saya lepaskan, tentang apa yang sedang saya perjuangkan dan tentang apa yang mungkin membuat saya menyerah.
Bahwa setiap keputusan yang besar akan diiringi dengan tanggung jawab yang besar pula. 
Dan tanggung jawab yang besar juga membutuhkan hati yang besar pula untuk menerima bahwa terkadang sesuatu tidak terjadi seperti apa yang sudah direncanakan. 
Bahwa keputusan yang diambil bisa saja salah dikemudian hari. 
Bahwa keputusan yang diambil bisa saja membuatku terluka dimasa depan.
But show must go on, Right? 

Luka mu hari ini buatmu belajar untuk tidak jatuh di masa depan. Namun jikapun masih jatuh setidaknya kita sudah belajar bagaimana caranya untuk bangkit. 

Saya selalu lupa untuk melihat hal-hal yang saya sudah saya peroleh selama ini. 
Saya hanya fokus pada apa yang saya inginkan tanpa sebenarnya tahu apa yang saya butuhkan. 
Tahun ini benar-benar seperti roller coster buat saya. Yang tak saya inginkan justru terjadi, yang saya impikan justru belum terwujud. Lantas jika saya hanya fokus pada hal-hal yang belum saya dapatkan, bukankah saya hanya akan tumbuh menjadi makhluk yang tidak bersyukur ? 

Saya masih belajar , dan akan terus belajar !
Sebagai pendatang baru di usia 27, saya masih mencoba beradaptasi.
Jika esok kalian temukan saya kembali mengeluhkan hal-hal yang sepatutnya saya syukuri, ingatkan saya. 
Jika esok kalian temukan saya merasa gagal dan tidak berarti, ingatkan saya. . 
Karena setiap harinya adalah petualangan baru bagi saya, dan saya masih terus belajar.
Mungkin besok saya terluka,
Mungkin juga saya akan menangis,
Mungkin saya bahagia,
Mungkin juga saya tertawa. 
Untuk itu, Ingatkan saya.


*****************************************************

Ps: Tulisan ini sudah ada di draft sejak tanggal 24 september 2018. Entah apa yang membuat saya lupa mem-post tulisan ini. Maklum, saya orangnya gampang terdistraksi oleh hal hal yang mungkin lebih seru dari tulisan ini. Hahaha..
Selamat membaca. dan Selamat Ulang Tahun Nas !!
selamat menjelang Natal dan tahun baru juga  😁 




Rabu, 03 Oktober 2018

Obrolan Tengah Malam



Bagaimana ternyata usia sangat mempengaruhi pola pikir seseorang. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang baru untuk dibahas. Jelas dong, semakin bertambahnya usia seseorang, tentunya dia akan menjadi semakin matang dalam berfikir. Tapi yang menjadi persoalan, sepertinya peraturan itu tidak berlaku untuk semua orang. Buktinya pernyataan "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan", tetap masih terdengar riuh acap kali seseorang mengalami pergantian usia. Seolah-olah menjadi tua tidak lantas membuatmu menjadi dewasa. Ya mungkin juga karena pada kenyataannya justru kakek nenek kita semakin hari semakin bersikap kekanakan bukan? 

Baik.. Mari kita buat ini lebih sederhana.

Beberapa saat yang lalu saya dan teman menonton sebuah film yang belakangan ini cukup menjadi buah bibir. Film yang diangkat dari sebuah novel tentu saja membuat film tersebut menjadi lebih bernilai untuk ditunggu. Mengapa ? Karena jelas, orang-orang ingin lebih memahami sebuah cerita lewat apa yang mereka lihat dan saksikan sendiri setelah imajinasi membawa mereka ke berbagai macam ekspektasi. 
Singkatnya, film dimulai, kami menonton, film selesai, kami berdiskusi. Kami berdua sepakat, ekspektasi kami terhadap film ini sepertinya terlalu tinggi. Atau mungkin orang-orang yang menonton film ini memberikan reaksi yang berlebihan. Atau juga mungkin kami hanyalah 2 orang manusia yang justru terlalu berlebihan menanggapi film ini dengan terlalu serius. 
Well.. Apapun itu, ini bukan tentang sebagus apa atau setidak bagus apa film tersebut. Tetapi lebih mengenai mengapa orang-orang menganggap film tersebut bagus sementara menurut kami memiliki pandangan yang berbeda, biasa saja- bukan jelek loh ya... 
Kami mulai mempertanyakan kebekuan hati kami terhadap film film yang bernuansa romantis. Kami seperti merasa gagal karena tidak merasa terharu biru seperti yang orang-orang sampaikan dari sosial medianya. 
Kami mulai menerka-nerka bagian mana yang membuat film ini menjadi tidak menarik versi kami dan mengapa menjadi sangat menarik menurut versi mereka. Hingga akhirnya, diskusi ini berakhir pada kenyataan bahwa bisa saja orang-orang yang  menganggap film ini sangat sangat keren  adalah orang-orang yang berada pada rentang usia yang masih cukup muda dan masih menyenangi hal hal yang terlalu di dramatisir-mungkin.
Sementara, menurut kami, apa yang ada di film tersebut justru seperti tidak masuk akal. Terlalu "cinderella story" yang tidak sesuai dengan realita yang ada. 
Kami mulai membandingkan karakter demi karakter yang ada di cerita dengan dunia nyata. Pada akhir diskusi aku sendiri mulai menyadari bahwa pada dasarnya justru kamilah yang terlalu serius menanggapi hal-hal yang disajikan dalam film tersebut. 
Kami lupa bahwa film is just a film. Tujuannya untuk menghibur, bukan untuk mewujudkan ekspektasi sejuta umat. Mungkin, jika aku menonton film ini 10 tahun yang lalu, aku akan masuk kedalam kelompok orang yang akan sangat menyanjung film ini. Ada banyak mimpi di film ini, hal-hal indah yang terjadi tampak terlalu tidak nyata. Cerita romantis picisan yang jelas hanya terjadi di buku bacaan dan hal hal tidak nyata itu selalu jadi objek yang paling dinikmati oleh para remaja yang baru beranjak dewasa. Pasti ingin seperti "si gadis", bisa ketemu dengan "si pria", mendapatkan cinta sejati lalu kemudian bahagia selama-lamanya.  Happily ever after ! The End, Fin, Tamat. 

Sayangnya, kami menonton di usia yang hampir menyentuh kepala tiga. Usia dua puluh tahun menjelang akhir- Belum akhir-akhir banget loh ya, masih menjelang. kami tidak setua itu :D- dimana segala drama di novel hanya akan tetap ada di novel, dimana realistis lebih diutamakan daripada imajinasi. Hal hal ini yang mungkin justru membuat ekspektasi kami terhadap "Bahagia" menjadi berubah. 
Kami terlalu serius dalam menilai sebuah film hingga membawanya kedalam sebuah percakapan yang serius tentang masa depan dan hal-hal lain yang ingin diwujudkan. Kami mungkin lupa "menikmati" karena terlalu serius "mengamati".
Eh tunggu dulu,  mungkin aku tidak bisa menggunakan kata "kami" karena bisa saja temanku ini tidak sependapat dengan ku. 

Aku yang kerap lupa "Menikmati"  karena terlalu serius untuk "Mengamati".
Aku, kerap lupa untuk menikmati apa yang sudah sutradara tersebut sajikan karena terlalu sibuk dengan mengamati bagian dari setiap film yang terlihat tidak masuk akal. Aku juga lupa bahwa cartoon favoritku selama ini juga bukan sesuatu yang masuk akal, lantas mengapa aku masih bisa menikmatinya tanpa berfikir terlalu serius?
Mungkin ini kenapa akhirnya peterpan benci untuk  menjadi dewasa. Karena ketika menjadi dewasa, kita melihat sesuatu yang berwarna menjadi hitam putih. Kita tidak melihat lagi bahwa hitam ataupun putih juga merupakan kumpulan dari berbagai macam warna. Kita lupa untuk menikmati karena cenderung mengamati hingga mengkritisi sesuatu hanya karena tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.  Kita terlalu banyak berfikir seharusnya itu begitu, seharusnya itu begini, tanpa mau melihat berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


Entah muda dengan kekanakannya
Entah tua dengan kedewasaannya
Atau 
Muda dengan kedewasaannya 
Tua dengan kekanakannya
Memangnya kenapa ? 

Jika kalian menanyakanku, aku sepertinya ingin menikmati masa dimana aku berada saat ini. 
Bagiku, menjadi dewasa atau bersikap kekanakan bukan soal bagaimana memandang kebahagiaan saja  atau tentang bagaimana sesuatu berjalan sesuai dengan aturan semesta yang berlaku, juga bukan tentang bagaimana melihat sesuatu hal dengan lebih bijak dan mengeluarkan kalimat kalimat yang terkesan "Dewasa" atau juga bukan seberapa banyak jumlah umur yang telah kita masuki.

Karena tetap saja akan ada beberapa hal yang harus ditertawakan. Menertawakannya tak lantas menjadikanmu kekanakan, bukan ?
Dan tetap saja harus ada beberapa hal yang harus ditanggapi secara serius. Bersikap serius tak lantas membuatmu tak dapat menikmati hidup, bukan ?
 
Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.- Pramoedya Ananta Toer "Child of All Nation"

Dewasa itu tahu kapan harus bersikap bijak menyikapi hidup tanpa harus kehilangan cara untuk menikmati dan mentertawakan masalah. 
Growing Up and Staying Young Nas ... 😉😉