Jumat, 04 Januari 2019

Mei 2018



Perjalanan kali ini membawa aku pada satu cerita baru.
Cerita yang kugenggam dalam ingatan, dan kutuang dalam tulisan yang berharap lebih abadi dari perjalanan itu sendiri.
Aku, menemukan sebuah makna baru dari sebuah perjalanan, bahwa banyaknya jalan yg tertempuh justru membawa kita berakhir pada sebuah kebingungan.
Bingung untuk membedakan, apakah aku sedang "pergi" atau "pulang".
Apakah aku sedang "datang" ketempat baru atau malah "kembali" ke posisi sebelumnya.
Gugusan pulau itu mengingatkan ku bahwa sejauh apapun aku sekarang belayar, yang ku perlukan hanya sebuah dermaga untuk berlabuh.
Aku yang singgah antara pulau demi pulau itu, menyusuri mencari hal menarik untuk di kenang,
Namun lucunya meski aku menyukainya, aku tak pernah berencana untuk tinggal menetap.
Aku kembali kedalam perjalananku, entah itu untuk "pergi" atau untuk "pulang".
Perjalanan ini membawa aku pada sebuah cerita baru, bahwa pergi tak berarti hilang.
Dan pulang belum tentu kembali.
Namun satu hal yang paling kuyakini saat ini, tepat diatas ketinggian 2000 kaki ini, kelak aku pasti akan berhenti melakukan perjalanan pencarianku.
Akan ada satu dermaga yang nantinya tak akan ku tinggal pergi.
Sebuah tempat yang akan ku sebut "rumah".
Sebuah tempat yang apapun yg ada di dalamnya akan menjadi sebuah pertualangan baru.
Sebuah tempat yang berisi aku, kamu dan cerita-cerita kita.

Labuan Bajo, Mei 2018 



Jumat, 16 November 2018

My Day




Baru saja melewati usia yang ke 27 lalu kemudian tersadar bahwa saya sudah "sedewasa" itu. Tapi yang terjadi malah tidak seperti yang saya bayangkan dahulu 5 tahun lalu. Dahulu ketika berusia 22 tahun, saya dengan penuh optimistik membayangkan bagaimana  diri ini seperti apa diusia 27 tahun. Dan yang terjadi ketika saya tiba diusia ini, saya justru merasa tidak terlalu banyak hal yang berubah selain badan yang kian membesar karena timbunan lemak :D 

Tepat ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 di tanggal 7 september lalu, yang saya lakukan hanyalah mencoba mengingat kembali hal hal apa yang dari dulu ingin diwujudkan di usia  ini, dan yang membuat saya tercengang, saya seperti tidak sedang bergerak kemana mana, itu pikiran saya. Nyatanya, banyak hal hal yang tak terduga telah terjadi. dari sekian banyak list impian yang ingin saya wujudkan, saya malah melakukan hal hal yang tak pernah saya berani impikan. 

Hidup yang sedang kita jalani selalu penuh rencana. Maunya begini, Maunya begitu. Nanti akan begini, kemudian akan menjadi begitu. Semuanya penuh rencana seolah-olah kita bisa memastikan bahwa apa yang kita rencanakan pasti akan berjalan dengan baik. Kita kerap lupa bahwa ada kuasa lain yang mempunyai peran utama dalam setiap rencana kita. 
Kita bisa saja menjadi pemeran utama dalam kehidupan kita masing-masing, tapi kita bukanlah sutradaranya. Kita juga bukan penulis skenario kehidupan kita sendiri. kita hanya menjalani apa yang sang sutradara inginkan. 

Tahun ini, saya menjalani banyak hal yang tak terduga, ternyata.
Lantas mengapa saya harus merasa murung karena "bucket list" saya yang belum tercapai?
Tahun ini, saya pergi ketempat-tempat yang tak pernah saya bayangkan, lantas mengapa saya harus terus menerus merasa muram hanya karena saya belum pernah sampai ditempat yang saya inginkan ?

Semua sudah mempunyai waktunya masing-masing. Waktu di Jayapura lebih cepat 2 jam dari pada waktu di Jakarta, namun bukan berarti Jakarta ketinggalan bukan? 
Mungkin hidup juga seperti itu. Di usia yang kian bertambah, jelas pemikiran-pemikiran tentang hidup seperti apa yang sebenarnya sedang kita jalani merupakan pertanyaan yang akan paling sering kita tanyakan pada diri sendiri. Tiap hari pasti akan banyak keraguan akan setiap keputusan yang kita buat.
Masa lalu adalah sejarah, dan masa depan adalah misteri. Lantas menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya tak akan pernah kita tahu tak akan membuat misteri tersebut terpecahkan bukan? 

27 tahun saya kali ini banyak membuat saya berfikir tentang apa yang sudah saya capai, tentang apa yang mungkin pernah saya lepaskan, tentang apa yang sedang saya perjuangkan dan tentang apa yang mungkin membuat saya menyerah.
Bahwa setiap keputusan yang besar akan diiringi dengan tanggung jawab yang besar pula. 
Dan tanggung jawab yang besar juga membutuhkan hati yang besar pula untuk menerima bahwa terkadang sesuatu tidak terjadi seperti apa yang sudah direncanakan. 
Bahwa keputusan yang diambil bisa saja salah dikemudian hari. 
Bahwa keputusan yang diambil bisa saja membuatku terluka dimasa depan.
But show must go on, Right? 

Luka mu hari ini buatmu belajar untuk tidak jatuh di masa depan. Namun jikapun masih jatuh setidaknya kita sudah belajar bagaimana caranya untuk bangkit. 

Saya selalu lupa untuk melihat hal-hal yang saya sudah saya peroleh selama ini. 
Saya hanya fokus pada apa yang saya inginkan tanpa sebenarnya tahu apa yang saya butuhkan. 
Tahun ini benar-benar seperti roller coster buat saya. Yang tak saya inginkan justru terjadi, yang saya impikan justru belum terwujud. Lantas jika saya hanya fokus pada hal-hal yang belum saya dapatkan, bukankah saya hanya akan tumbuh menjadi makhluk yang tidak bersyukur ? 

Saya masih belajar , dan akan terus belajar !
Sebagai pendatang baru di usia 27, saya masih mencoba beradaptasi.
Jika esok kalian temukan saya kembali mengeluhkan hal-hal yang sepatutnya saya syukuri, ingatkan saya. 
Jika esok kalian temukan saya merasa gagal dan tidak berarti, ingatkan saya. . 
Karena setiap harinya adalah petualangan baru bagi saya, dan saya masih terus belajar.
Mungkin besok saya terluka,
Mungkin juga saya akan menangis,
Mungkin saya bahagia,
Mungkin juga saya tertawa. 
Untuk itu, Ingatkan saya.


*****************************************************

Ps: Tulisan ini sudah ada di draft sejak tanggal 24 september 2018. Entah apa yang membuat saya lupa mem-post tulisan ini. Maklum, saya orangnya gampang terdistraksi oleh hal hal yang mungkin lebih seru dari tulisan ini. Hahaha..
Selamat membaca. dan Selamat Ulang Tahun Nas !!
selamat menjelang Natal dan tahun baru juga  😁 




Rabu, 03 Oktober 2018

Obrolan Tengah Malam



Bagaimana ternyata usia sangat mempengaruhi pola pikir seseorang. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang baru untuk dibahas. Jelas dong, semakin bertambahnya usia seseorang, tentunya dia akan menjadi semakin matang dalam berfikir. Tapi yang menjadi persoalan, sepertinya peraturan itu tidak berlaku untuk semua orang. Buktinya pernyataan "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan", tetap masih terdengar riuh acap kali seseorang mengalami pergantian usia. Seolah-olah menjadi tua tidak lantas membuatmu menjadi dewasa. Ya mungkin juga karena pada kenyataannya justru kakek nenek kita semakin hari semakin bersikap kekanakan bukan? 

Baik.. Mari kita buat ini lebih sederhana.

Beberapa saat yang lalu saya dan teman menonton sebuah film yang belakangan ini cukup menjadi buah bibir. Film yang diangkat dari sebuah novel tentu saja membuat film tersebut menjadi lebih bernilai untuk ditunggu. Mengapa ? Karena jelas, orang-orang ingin lebih memahami sebuah cerita lewat apa yang mereka lihat dan saksikan sendiri setelah imajinasi membawa mereka ke berbagai macam ekspektasi. 
Singkatnya, film dimulai, kami menonton, film selesai, kami berdiskusi. Kami berdua sepakat, ekspektasi kami terhadap film ini sepertinya terlalu tinggi. Atau mungkin orang-orang yang menonton film ini memberikan reaksi yang berlebihan. Atau juga mungkin kami hanyalah 2 orang manusia yang justru terlalu berlebihan menanggapi film ini dengan terlalu serius. 
Well.. Apapun itu, ini bukan tentang sebagus apa atau setidak bagus apa film tersebut. Tetapi lebih mengenai mengapa orang-orang menganggap film tersebut bagus sementara menurut kami memiliki pandangan yang berbeda, biasa saja- bukan jelek loh ya... 
Kami mulai mempertanyakan kebekuan hati kami terhadap film film yang bernuansa romantis. Kami seperti merasa gagal karena tidak merasa terharu biru seperti yang orang-orang sampaikan dari sosial medianya. 
Kami mulai menerka-nerka bagian mana yang membuat film ini menjadi tidak menarik versi kami dan mengapa menjadi sangat menarik menurut versi mereka. Hingga akhirnya, diskusi ini berakhir pada kenyataan bahwa bisa saja orang-orang yang  menganggap film ini sangat sangat keren  adalah orang-orang yang berada pada rentang usia yang masih cukup muda dan masih menyenangi hal hal yang terlalu di dramatisir-mungkin.
Sementara, menurut kami, apa yang ada di film tersebut justru seperti tidak masuk akal. Terlalu "cinderella story" yang tidak sesuai dengan realita yang ada. 
Kami mulai membandingkan karakter demi karakter yang ada di cerita dengan dunia nyata. Pada akhir diskusi aku sendiri mulai menyadari bahwa pada dasarnya justru kamilah yang terlalu serius menanggapi hal-hal yang disajikan dalam film tersebut. 
Kami lupa bahwa film is just a film. Tujuannya untuk menghibur, bukan untuk mewujudkan ekspektasi sejuta umat. Mungkin, jika aku menonton film ini 10 tahun yang lalu, aku akan masuk kedalam kelompok orang yang akan sangat menyanjung film ini. Ada banyak mimpi di film ini, hal-hal indah yang terjadi tampak terlalu tidak nyata. Cerita romantis picisan yang jelas hanya terjadi di buku bacaan dan hal hal tidak nyata itu selalu jadi objek yang paling dinikmati oleh para remaja yang baru beranjak dewasa. Pasti ingin seperti "si gadis", bisa ketemu dengan "si pria", mendapatkan cinta sejati lalu kemudian bahagia selama-lamanya.  Happily ever after ! The End, Fin, Tamat. 

Sayangnya, kami menonton di usia yang hampir menyentuh kepala tiga. Usia dua puluh tahun menjelang akhir- Belum akhir-akhir banget loh ya, masih menjelang. kami tidak setua itu :D- dimana segala drama di novel hanya akan tetap ada di novel, dimana realistis lebih diutamakan daripada imajinasi. Hal hal ini yang mungkin justru membuat ekspektasi kami terhadap "Bahagia" menjadi berubah. 
Kami terlalu serius dalam menilai sebuah film hingga membawanya kedalam sebuah percakapan yang serius tentang masa depan dan hal-hal lain yang ingin diwujudkan. Kami mungkin lupa "menikmati" karena terlalu serius "mengamati".
Eh tunggu dulu,  mungkin aku tidak bisa menggunakan kata "kami" karena bisa saja temanku ini tidak sependapat dengan ku. 

Aku yang kerap lupa "Menikmati"  karena terlalu serius untuk "Mengamati".
Aku, kerap lupa untuk menikmati apa yang sudah sutradara tersebut sajikan karena terlalu sibuk dengan mengamati bagian dari setiap film yang terlihat tidak masuk akal. Aku juga lupa bahwa cartoon favoritku selama ini juga bukan sesuatu yang masuk akal, lantas mengapa aku masih bisa menikmatinya tanpa berfikir terlalu serius?
Mungkin ini kenapa akhirnya peterpan benci untuk  menjadi dewasa. Karena ketika menjadi dewasa, kita melihat sesuatu yang berwarna menjadi hitam putih. Kita tidak melihat lagi bahwa hitam ataupun putih juga merupakan kumpulan dari berbagai macam warna. Kita lupa untuk menikmati karena cenderung mengamati hingga mengkritisi sesuatu hanya karena tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.  Kita terlalu banyak berfikir seharusnya itu begitu, seharusnya itu begini, tanpa mau melihat berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


Entah muda dengan kekanakannya
Entah tua dengan kedewasaannya
Atau 
Muda dengan kedewasaannya 
Tua dengan kekanakannya
Memangnya kenapa ? 

Jika kalian menanyakanku, aku sepertinya ingin menikmati masa dimana aku berada saat ini. 
Bagiku, menjadi dewasa atau bersikap kekanakan bukan soal bagaimana memandang kebahagiaan saja  atau tentang bagaimana sesuatu berjalan sesuai dengan aturan semesta yang berlaku, juga bukan tentang bagaimana melihat sesuatu hal dengan lebih bijak dan mengeluarkan kalimat kalimat yang terkesan "Dewasa" atau juga bukan seberapa banyak jumlah umur yang telah kita masuki.

Karena tetap saja akan ada beberapa hal yang harus ditertawakan. Menertawakannya tak lantas menjadikanmu kekanakan, bukan ?
Dan tetap saja harus ada beberapa hal yang harus ditanggapi secara serius. Bersikap serius tak lantas membuatmu tak dapat menikmati hidup, bukan ?
 
Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.- Pramoedya Ananta Toer "Child of All Nation"

Dewasa itu tahu kapan harus bersikap bijak menyikapi hidup tanpa harus kehilangan cara untuk menikmati dan mentertawakan masalah. 
Growing Up and Staying Young Nas ... 😉😉

Kamis, 26 Juli 2018

Diizinkan

Bagaimana rasa ini ku izinkan berkembang. 
Kemudian  menjadi benalu dan membuat hati mengering. 
Aku mengizinkannya. 
Berharap dia datang untuk menyelamatkanku dari rindu yang mengikat. 
Hingga aku lupa rindu itu bernyawa.

Pagi tadi, Aku terbangun dengan banyak senyum di wajah.
Menjelang siang, Aku tertegun dengan banyak rasa yang patah.
Apa sebegini menariknya jatuh hati? 
Membuatmu jatuh lebih jauh dari sesaat kau terbang. 


Sebelum malam ini Aku tutup, 
Dia mampir meninggalkan banyak debaran di dada. 
Hingga Aku lupa telah membencinya sepanjang siang. 
Aku menikmatinya.


Keep Moving Forward



Terkadang ada perasaan aneh ketika mendengar beberapa kabar  teman yang sudah lama tidak ditemui berada diposisi yang cukup dikatakan sukses.
Ketika mendengar beberapa teman menghubungi untuk mengabarkan kabar pernikahannya dalam waktu dekat.
Ketika orang-orang yang ada disekitar kita seperti dengan mudahnya berada dalam posisi yang justru masih sedang kita usahakan. 
Kadang kita berfikir, mengapa mereka bisa dengan mudahnya menjalani hidup sementara kita masih harus berusaha keras untuk melewatinya. 
Kita seperti merasa sudah mengusahakan segalanya, namun seperti tidak ada kemajuan, 

Kita sebenarnya tahu bahwa mereka -orang-orang yang kita cemburui- juga sudah melewati banyak hal sulit jauh dari apa yang kita hadapi sekarang. 
Kita paham benar bahwa orang-orang disekitar kita juga pernah berada di fase yang menyulitkan dan akhirnya mereka berhasil melewatinya.
Kita paham bahwa tidak ada hasil yang tidak melewati proses. 
hanya saja hati kita kerap susah menerimanya. 
Kita hanya ingin semuanya segera berakhir. Kita hanya ingin hal instan terjadi dalam hidup kita hanya untuk mengejar ketertinggalan kita dari orang-orang disekitar kita.

Kita semua seperti seorang pelari, dengan jalur yang berbeda, dengan rintangan yang berbeda. Kadang kita merasa lintasan milik orang terlihat lebih mudah dibandingkan dengan lintasan yang kita hadapi. 
Kita merasa jalur yang kita lewati terlalu jauh dibandingkan milik orang lain. 
Ketika beberapa teman sudah mencapai garis finisnya, sementara kita seperti tidak sedang bergerak kemana-mana. 
Pada saat itu, hati kita kerap ciut. Kita merasa tak akan memenangkan pertandingan kita sendiri. Bukannya terus melaju, terkadang kita malah berhenti. Berhenti hanya untuk menyalahkan diri sendiri,  atau berhenti hanya untuk menyalahkan orang lain atas kegagalan diri sendiri.

Kehidupan membutuhkan proses. Kehidupan membutuhkan pertumbuhan. 
Kita hanya lupa, ketika kita berhenti hal itu sama saja kita berhenti untuk tumbuh. kita berhenti untuk berproses. Kita akan menjadi "Mati" dan kemudian ditinggalkan. 

"Semua orang punya waktunya masing-masing. semua orang akan mencapai garis finish-nya masing masing. yang perlu kita lakukan hanya teruslah bergerak maju. Sekecil apapun pergerakan itu, tak apa. Yang penting jangan pernah berhenti, jangan pernah menyerah."

Ketika hatimu mulai ciut, 
ketika hatimu mulai gentar, 
ketika iri hati melanda,
Yakinlah, itu semua juga bagian dari proses bertumbuh.
Berjalan dan teruslah bergerak maju. 
Ketika kau mencapai Finish-mu dan menoleh kebelakang, kau akan sadar sudah sejauh apa kau berjalan. Bahwa "tumbuh" telah menjadikanmu pribadi yang jauh berbeda dari sebelumnya. 
Bahwa "tumbuh" bukan soal kecepatan, tapi soal konsistensi. 



Sabtu, 26 Mei 2018

Surabaya

Riang yang hadir dalam tiap tawa dan celotehmu.
Langkah kecil, pandangan jenaka serta sentuhan manja di ujung jemariku sesaat sebelum kita pergi berdoa pada Tuhan. Bagaimana bisa aku lupa?

Kegaduhan pagi yang terasa riuh.
ingar bingar sesaat, bising dan gelap.
Jantungku berdetak kencang,
Pikiranku kalut. 
Hatiku, kau dimana?
Diantara teriakan, mataku menjelajah.
Disitu kau ternyata, 
lelap terbaring dalam damai.
Diantara luka dan bekas darah,
mataku terpaku.
Disitu kau ternyata, tergeletak terbujur kaku. Diantara tangis yang menggelegar. 
Disitu kau ternyata.
Diantara pilu dan tak percaya.
Hatiku, kau pergi kemana?
Ucapmu salam sampai bertemu kembali.
Ketempat Bapa yang terkasih, 
yang memberi dan mengambilmu kembali.

Genggamku erat meski berat.
Melupakanmu, tak akan pernah.
Meski tangis tak pernah berhenti,
Hati ku hanya ingin merasa damai kembali.

Syukur kulantunkan, doa kupanjatkan
Kubiarkan maaf menjadi pengobat luka.
Kepada mereka penyebab segala.
Tak apa, katamu.
Kau kini bernyanyi riang tanpa takut.
Tak apa, katamu,
Kelak kita kan bertemu lagi, Anakku.

****
Karya ini buah pikiran seorang teman dan saya sendiri yang begitu tersentuh dengan kejadian yang terjadi baru baru ini.
Karya ini hasil karya saya dan seorang teman yang menghabiskan beberapa jam hanya membahas topik yang memang sedang hangat dibicarakan.
Selamat menikmati.

Rabu, 16 Mei 2018

IMAJINER



Nyatakah kau atau sekedar bayangan saja
Jejakmu ada meski ragamu tak tampak
Aku yang hanya berimajinasi semalam
ataukah memang ada kau yang menjaga

Ada aroma yang tertinggal, di bantal yang kau gunakan,
Ada jejak yang membekas, di tangan yang kau genggam.
Aroma itu melekat, Erat.
Menjadi teman melewati malam.
Pengingat kita pernah melewati senja bersama.

Apalagi yang dapat kulakukan saat ini,
selain memikirkanmu hingga jatuh tertidur.
Pengar di kepalaku tak kunjung membaik,
tapi dengan bayangmu saja mabukku hilang.
Kau ini apa ?
Sejenis obat penenang ?

Aromamu justru menjadi candu.
Lebih dahsyat dari alkohol yang ku tenggak semalam subuh.
Suaramu justru terdengar merdu,
Lebih indah dari dentaman nada yang ku dengar semalam suntuk.
Kau ini apa ?
Sejenis Rindu yang tak bertuan,
ataukah,
hanya sebatas Imajinasi Liar yang aku pelihara sebagai teman pelipur lara.